Review Resident Evil Requiem (RE9): Horor Raccoon City yang Dewasa, Brutal, dan “Nempel” di Kepala

Capcom kembali “mengunci” formula survival horror modern lewat Resident Evil Requiem—game utama ke-9 seri Resident Evil—dengan dua jalur permainan yang kontras: horor investigatif dan aksi intens. Paling kuatnya ada pada atmosfer, tempo tegang, dan rasa trauma yang dibawa ceritanya; minusnya, beberapa bagian terasa terlalu “menoleh ke belakang” dan pacing antarbab bisa timpang.

Platform: PS5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, PC
Rilis: 27 Februari 2026


Review Resident Evil Requiem (2026)

1) Premis Cerita: Raccoon City, Luka Lama yang Dibuka Lagi

Requiem membawa nuansa “duka kolektif” yang jarang benar-benar digarap serius di seri ini. Kisahnya menempatkan tragedi Raccoon City sebagai trauma jangka panjang, bukan sekadar latar nostalgia. Polygon menyorot bagaimana game ini menggali horor dari lorong-lorong sempit dan trauma pasca-bencana, sementara GameSpot menilai Capcom berhasil meramu elemen terbaik RE modern meski kadang terlalu mengandalkan kemenangan masa lalu.

Yang terasa beda: ceritanya tidak buru-buru “pamer monster”, tapi membangun ketegangan dari rasa tidak aman—seolah kamu selalu telat satu langkah dari sesuatu yang mengintai.


2) Gameplay: Dua Rasa, Satu Tujuan—Bikin Panik

Capcom jelas ingin Requiem terasa seperti paket lengkap: survival horror yang pelan dan mencekik, lalu diselingi setpiece aksi yang bikin tangan pegal.

a) Eksplorasi & survival

  • Manajemen resource masih jadi inti: peluru, item penyembuhan, dan keputusan “mundur atau maju”.

  • Desain area kuat di verticality dan jalur alternatif—bikin kamu waspada soal suara, sudut buta, dan rute kabur.

b) Aksi
Saat game memutuskan untuk “ngebut”, ia benar-benar ngebut—tetap menegangkan, tapi lebih sinematik. Di sini, sebagian pemain bakal merasa “wah”, sebagian lain mungkin menganggapnya terlalu mirip momen-momen unggulan RE era modern.


3) Atmosfer, Visual, dan Audio: Kelas Atas

Requiem unggul di atmosfer: pencahayaan, detail lingkungan, dan sound design yang tidak malu-malu “menggigit telinga”. Metacritic menggambarkan Requiem sebagai entri yang sangat imersif dengan dua perjalanan karakter yang saling terkait.

Catatan untuk pemain yang gampang tegang: game ini cukup agresif dalam membangun dread—pakai headset bikin efeknya berlipat.


4) Performa PC: Indah, Tapi Setting Ray Tracing Perlu Disesuaikan

Kalau kamu main di PC, kabar baiknya: performa umumnya solid. PC Gamer mencatat visualnya bagus dan frame rate cukup oke secara umum, tetapi path tracing jelas “pembunuh FPS”. Mereka juga menyinggung perbedaan performa RT di beberapa arsitektur GPU dan bagaimana menurunkan level RT bisa memberi kenaikan FPS yang terasa.

Saran praktis (aman untuk banyak PC):

  • Prioritaskan stabilitas FPS dulu, baru naikkan RT pelan-pelan.

  • Kalau FPS drop di area gelap/efek partikel, coba turunkan RT satu tingkat sebelum menurunkan resolusi.


Kelebihan

✅ Atmosfer horor kuat dan konsisten
✅ Cerita lebih “dewasa” dalam membahas trauma Raccoon City
✅ Visual & audio sangat mendukung imersi
✅ Variasi pacing (survival ↔ aksi) bikin pengalaman tidak monoton

Kekurangan

❌ Beberapa momen terasa terlalu mengandalkan “formula sukses” RE modern
❌ Peralihan tempo antarbab bisa terasa timpang (tergantung selera)


Sumber Referensi 


Komentar