Review Titanium Court: Game Indie Aneh, Cerdas, dan Sulit Dijelaskan yang Bisa Jadi Kejutan Besar 2026
Di tengah rilisan game besar yang sering terasa aman, Titanium Court datang seperti undangan dari dunia lain. Game buatan AP Thomson dan diterbitkan Fellow Traveller ini resmi hadir di Steam pada 23 April 2026, membawa campuran genre yang nyaris mustahil diringkas dalam satu kalimat: match-three, roguelite, deckbuilding, tower defense, autobattler, strategi, dan visual novel lo-fi. Steam dan Metacritic sama-sama mencatatnya sebagai rilisan PC baru dengan identitas strategi yang sangat tidak biasa.
Premisnya sederhana di permukaan, tetapi makin liar saat dimainkan. Pemain terseret ke sebuah kerajaan faerie absurd bernama Titanium Court, lalu secara tidak sengaja menjadi ratu di tengah perang aneh antar-court. PC Gamer menggambarkannya sebagai salah satu “prestige match-three” paling unik yang pernah mereka mainkan, sementara The Verge menyebut game ini sulit dijelaskan tetapi jauh lebih sulit untuk dilepas.
Dari sisi gameplay, Titanium Court bergerak dalam dua fase utama. Pada fase High Tide, pemain menggeser tile seperti game match-three untuk mengumpulkan resource dan membentuk medan. Pada fase Low Tide, resource itu dipakai untuk mengerahkan unit, membangun pertahanan, dan bertahan dari serangan musuh. GamesRadar menyebut strukturnya seperti gabungan Balatro dan Blue Prince, tetapi dengan identitas yang tetap berdiri sendiri.
Yang membuat Titanium Court menarik bukan hanya banyaknya genre yang dicampur, tetapi cara semuanya dipakai untuk membangun rasa penasaran. Kotaku menilai game ini seperti tarian hipnotis antara tile, strategi, absurditas, dan bahasa. A.V. Club bahkan menyebutnya sebagai salah satu game terbaik tahun ini karena berhasil menjadi karya yang benar-benar orisinal, bukan sekadar kumpulan referensi.
Namun, game ini jelas bukan untuk semua orang. PC Gamer mencatat bahwa inti match-three-nya bisa menjadi hambatan bagi pemain yang tidak suka kontrol berbasis tile dan RNG. Slant Magazine juga melihat Titanium Court sebagai semacam “anti-roguelite”: game yang memakai struktur repetitif roguelite, tetapi justru mengajak pemain mempertanyakan kebiasaan terus mengonsumsi run demi run.
Untuk pembaca Indonesia, posisi Titanium Court cukup jelas. Ini bukan game untuk pemain yang mencari aksi cepat, visual AAA, atau cerita lugas. Tetapi untuk gamer yang suka indie eksperimental, strategi aneh, roguelite, humor absurd, dan game yang berani melawan formula, Titanium Court adalah salah satu rilisan paling menarik bulan ini. Nilai artikelnya juga kuat karena game ini punya cerita unik di balik kualitasnya: ia sempat memenangkan penghargaan besar di Independent Games Festival 2026, termasuk Seumas McNally Grand Prize dan Excellence in Design, sebelum rilis penuh.
Kelebihan
- Kombinasi genre sangat orisinal dan sulit dibandingkan dengan game lain.
- Writing absurd, lucu, dan penuh kejutan menjadi daya tarik besar.
- Sistem High Tide dan Low Tide memberi lapisan strategi yang unik.
- Punya reputasi kuat dari IGF 2026 sebelum rilis penuh.
Kekurangan
- Mekanik match-three dan RNG bisa terasa mengganggu untuk pemain yang ingin kontrol penuh.
- Sulit dijelaskan dan tidak mudah diakses untuk pemain kasual.
- Struktur roguelite eksperimentalnya bisa terasa terlalu aneh bagi sebagian orang.
Komentar
Posting Komentar